Kesadaran4 September 2026· 9 menit baca
PERJALANAN
Ditulis oleh Asep Mandala Satya Buddhi

Manusia datang ke dunia tanpa mengetahui ke mana kehidupan akan membawanya. Sejak tarikan napas pertama, diri mulai bersentuhan dengan dunia melalui orang-orang terdekat. Suara ibu, pelukan ayah, suasana rumah, cara keluarga menghadapi persoalan, pujian, teguran, larangan, bahkan pertengkaran yang terdengar dari balik pintu perlahan menjadi informasi pertama tentang kehidupan.
Pada masa anak-anak, hampir semuanya diterima tanpa banyak pertanyaan. Anak belajar dengan melihat, mendengar, meniru, lalu menyimpan pengalaman itu sebagai sesuatu yang dianggap benar. Dari sinilah terbentuk pemahaman awal tentang kasih sayang, rasa aman, keberanian, ketakutan, keberhasilan, kegagalan, juga bagaimana seseorang seharusnya bersikap agar diterima. Tidak semua yang tertanam pada masa itu kelak sesuai dengan kenyataan. Sebagian menjadi bekal, sebagian berubah menjadi batas yang tanpa disadari ikut menentukan cara memandang diri sendiri.
Memasuki masa remaja, dunia menjadi lebih luas daripada rumah. Pertemanan, sekolah, lingkungan sosial, kegagalan pertama, ketertarikan kepada seseorang, keinginan untuk diterima, serta dorongan menemukan jati diri membuat kehidupan terasa semakin ramai. Pendapat keluarga mulai dibandingkan dengan pandangan orang lain, apa yang sebelumnya dianggap mutlak perlahan dipertanyakan. Pada usia inilah seseorang mulai mengenal pilihan dengan lebih nyata, meskipun belum selalu memahami akibatnya. Ada keputusan yang membawa kegembiraan, ada langkah yang berakhir dengan luka. Benar dan salah tidak lagi sesederhana nasihat ketika kecil, sebab keadaan sering menghadirkan wilayah yang tidak sepenuhnya hitam atau putih. Manusia belajar bahwa keputusan terbaik pun dapat menghasilkan sesuatu yang tidak diharapkan, sedangkan kesalahan kadang justru membuka pengertian yang sebelumnya tidak pernah dimiliki.
Kedewasaan membawa persoalan dengan wajah yang berbeda. Tanggung jawab bertambah, pilihan semakin banyak, dan setiap keputusan mempunyai harga. Pekerjaan, keluarga, cinta, persahabatan, kehilangan, kepercayaan, serta kebutuhan mempertahankan kehidupan menempatkan seseorang pada persimpangan yang tidak selalu mudah. Ada cinta yang tumbuh dan memberi kekuatan, tetapi ada pula hubungan yang meninggalkan kecewa. Ada keberhasilan yang membuat dada lapang, kemudian datang kegagalan yang meruntuhkan keyakinan terhadap diri sendiri.
Seseorang dapat merasa sangat dicintai pada suatu masa, lalu mengalami kehilangan pada masa berikutnya. Trauma terkadang lahir dari kejadian besar, tetapi dapat pula terbentuk dari luka kecil yang berlangsung lama. Ketika semuanya menumpuk, harapan bisa melemah. Manusia bahkan dapat sampai pada suatu keadaan ketika jalan di depan terasa gelap dan dirinya tidak lagi mengetahui harus berjalan ke mana.
“Hirup mah darma wawayangan.”
Secara sederhana, hidup digambarkan seperti wayang yang sedang menjalankan bagiannya dalam bentangan cerita yang lebih luas daripada kehendak pribadi. Ungkapan tersebut tidak mengajarkan manusia untuk pasrah tanpa daya, melainkan mengingatkan bahwa tidak semua kejadian berada dalam kekuasaan kita. Ada bagian yang dapat dipilih, diperjuangkan, dan diperbaiki; ada pula keadaan yang akhirnya harus diterima, dan di antara keduanya diperlukan kejernihan.
Kita bertanggung jawab atas keputusan sendiri, tetapi tidak mungkin mengendalikan seluruh akibat, sikap orang lain, perubahan keadaan, ataupun datang dan perginya sesuatu yang dicintai. Kebijaksanaan tumbuh ketika seseorang mulai mampu membedakan mana yang masih dapat diusahakan dan mana yang hanya akan menghabiskan hidup apabila terus dilawan.
Semakin jauh perjalanan ditempuh, masa lalu meninggalkan banyak bekas. Beberapa kenangan terasa hangat ketika dikenang, sementara yang lain masih sanggup mengusik ketenangan meskipun telah berlalu bertahun-tahun. Penyesalan sering muncul dari keinginan untuk kembali dan mengubah sesuatu yang sudah selesai. Kita berkata dalam hati, seandainya dahulu lebih berhati-hati, seandainya tidak memilih jalan itu, seandainya berani mengatakan tidak, atau seandainya tidak melepaskan seseorang. Padahal manusia masa lalu mengambil keputusan dengan pengetahuan, kesadaran, dan keadaan batin yang dimilikinya saat itu.
Menilai diri yang dahulu menggunakan pemahaman hari ini sering membuat luka menjadi lebih panjang. Berdamai dengan diri bukan membenarkan seluruh kesalahan. Berdamai berarti berani mengakuinya, mengambil pelajaran, memperbaiki apa yang masih mungkin diperbaiki, kemudian berhenti menghukum diri atas sesuatu yang tidak dapat diulang.
Di sinilah penerimaan dan memaafkan memperoleh tempat yang penting. Memaafkan bukan melupakan kejadian, apalagi berpura-pura bahwa luka tidak pernah ada. Ingatan tetap dapat tinggal sebagai pengetahuan agar kesalahan yang sama tidak berulang. Menerima juga bukan berarti menyukai semua yang telah terjadi. Penerimaan adalah kesediaan melihat kenyataan sebagaimana adanya tanpa terus menuntut masa lalu menjadi berbeda. Ada orang yang perlu dimaafkan, ada keadaan yang perlu dilepaskan, dan ada diri sendiri yang terlalu lama diperlakukan sebagai terdakwa. Kesedihan boleh dikenang tanpa harus menjadi rumah. Cinta boleh berakhir tanpa menjadikan seluruh kenangannya sia-sia. Bahkan kegagalan dapat ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan, bukan sebagai nama baru bagi diri kita.
Ketika usia beranjak tua, banyak hal yang dahulu terasa sangat penting perlahan berubah ukuran. Keinginan membuktikan diri mulai kehilangan daya tariknya, keramaian tidak selalu dibutuhkan, dan kemenangan tidak lagi harus diketahui banyak orang. Leluhur Sunda mengenal ungkapan “Mulih ka jati, mulang ka asal,” yang dapat dimaknai sebagai kembali kepada kesejatian, kembali mengenali dasar diri setelah panjang berjalan ke luar.
Pada akhirnya manusia memang kembali berhadapan dengan dirinya sendiri. Harta, kedudukan, pujian, cinta, kehilangan, keberhasilan, kesalahan, tangis, dan tawa pernah datang mengisi perjalanan, tetapi tidak semuanya harus dibawa sampai ujung. Ada yang cukup dikenang, ada yang diambil pelajarannya, lalu diletakkan kembali. Barangkali kematangan hidup justru hadir ketika seseorang tidak lagi sibuk bertanya mengapa semua itu terjadi kepadanya, melainkan mulai memahami apa yang telah dipelajarinya dari semua itu.
Perjalanan kemudian bukan semata jarak antara lahir dan tua. Perjalanan adalah proses panjang menjadi manusia: menerima kehidupan, mengenali diri, memilih, tersesat, mencintai, terluka, bangkit, memaafkan, lalu berjalan kembali dengan beban yang lebih sedikit dan kesadaran yang lebih jernih dalam memaknai makna kehidupan.
Ingin melanjutkan proses ini sebagai pengalaman?
Program MANDALA META menyediakan ruang untuk berlatih dan menerapkan.


