Metakognisi4 September 2026· 8 menit baca

SEMBADA

Ditulis oleh Asep Mandala Satya Buddhi

SEMBADA
Hidup tidak pernah berhenti pada tindakan. Apa pun yang dilakukan manusia akan bergerak menjadi akibat, bersentuhan dengan orang lain, keadaan, aturan, waktu, lalu kembali dalam bentuk yang tidak selalu dapat diperkirakan. Seseorang boleh mempunyai niat baik, perhitungan matang, bahkan keyakinan bahwa pilihannya benar, tetapi kenyataan tidak berkewajiban mengikuti kehendaknya. Ada keputusan yang menghasilkan keberhasilan, ada pula yang berakhir pada kerugian, kekecewaan, atau keadaan yang sama sekali tidak diinginkan. Hubungan antara aksi dan reaksi inilah yang membuat setiap pilihan mempunyai bobot. Kebebasan bertindak tidak pernah berdiri sendirian; di belakangnya selalu menunggu konsekuensi. Karena itu, kematangan seseorang bukan hanya terlihat dari keberaniannya mengambil keputusan, tetapi dari kesanggupannya tetap berdiri ketika akibat keputusan tersebut datang menghampiri. Komitmen menjadi penting karena tindakan mudah dilakukan ketika semuanya berjalan sesuai harapan. Ujian sebenarnya muncul ketika kenyataan berubah arah. Pada saat hasilnya baik, manusia dengan mudah mengatakan bahwa keberhasilan tersebut berasal dari pilihannya. Namun ketika keadaan memburuk, muncul godaan untuk mencari alasan, menghindar, menyangkal, atau menunjuk pihak lain sebagai penyebab. Di sinilah tanggung jawab memperoleh makna yang sesungguhnya. Bertanggung jawab tidak berarti menyalahkan diri tanpa batas, juga bukan memikul kesalahan yang memang dilakukan orang lain. Tanggung jawab adalah kejernihan untuk mengenali bagian mana yang benar-benar menjadi milik kita: keputusan yang pernah dibuat, ucapan yang pernah disampaikan, tindakan yang telah dilakukan, serta akibat yang memang lahir dari semuanya. Apa yang menjadi bagian orang lain tetap ditempatkan pada tempatnya, tetapi bagian diri sendiri tidak disembunyikan hanya untuk mempertahankan harga diri. Ada ungkapan leluhur yang mengatakan demikian; “Kudu nyanghulu ka hukum, nunjang ka nagara, mupakat ka balaréa.” Maknanya, tindakan manusia tidak semata-mata mengikuti kehendak pribadi. Ada aturan yang dihormati, tatanan yang dijaga, dan kehidupan bersama yang perlu diperhitungkan. Kebebasan selalu mempunyai batas bernama tanggung jawab. Ketika keputusan ternyata salah, mengakuinya bukan tanda kelemahan. Justru dibutuhkan kekuatan batin untuk berkata bahwa kita telah keliru tanpa sibuk membangun pembenaran. Kesalahan yang masih mungkin diperbaiki selayaknya diperbaiki; kerugian yang dapat dipulihkan perlu diselesaikan; permintaan maaf diberikan ketika memang ada pihak yang terluka. Sementara akibat yang tidak lagi dapat dibatalkan harus diterima sebagai bagian dari pelajaran. Menolak kenyataan tidak menghapus kejadian. Menyangkal hanya menunda perjumpaan dengan akibat yang pada akhirnya tetap harus dihadapi. Dari sikap semacam inilah manusia belajar tentang keteguhan. Dalam ungkapan Sunda dikenal “Sacangreud pageuh, sagolék pangkék,” yang bermakna teguh memegang sesuatu yang telah menjadi ketetapan, tidak mudah melepaskannya hanya karena keadaan menjadi sulit. Keteguhan tersebut bukan keras kepala. Seseorang tetap dapat mengoreksi keputusan apabila terbukti keliru, tetapi tidak melarikan diri dari tanggung jawab atas langkah yang telanjur diambil. Ia bersedia menerima pujian tanpa mabuk oleh keberhasilan, sebagaimana sanggup menerima teguran tanpa buru-buru mencari kambing hitam. Ada keberanian untuk melihat kenyataan apa adanya, termasuk ketika kenyataan memperlihatkan sisi diri yang tidak menyenangkan. Pada titik inilah sembada menemukan kedalamannya. Sembada bukan sekadar sanggup mengerjakan atau menyelesaikan sesuatu. Sembada adalah kesatuan antara pilihan, komitmen, tindakan, konsekuensi, dan tanggung jawab. Orang yang sembada tidak hanya mengakui perbuatannya ketika hasilnya baik, tetapi buruknya pun diterima sebagai bagian yang harus dihadapi, dipahami, dan diselesaikan. Dirinya tidak menghindar ketika keadaan menjadi berat, tidak menyangkal ketika bukti menunjukkan kekeliruan, serta tidak melemparkan kesalahan kepada orang lain demi menyelamatkan dirinya sendiri. Ada harga yang harus dibayar dari setiap pilihan, dan kesediaan membayar harga itulah yang membuat seseorang utuh di hadapan tindakannya. “Sembada adalah keberanian melakukan dengan kesadaran, menerima dengan kelapangan, memperbaiki ketika keliru, dan bertanggung jawab sampai selesai.”
BagikanWhatsAppFacebook

Ingin melanjutkan proses ini sebagai pengalaman?

Program MANDALA META menyediakan ruang untuk berlatih dan menerapkan.

Artikel lainnya